Selasa, 09 Februari 2010

TJS: MYT


Andrias Harefa tetap tokoh panutan dalam dunia pembelajar. Meski barangkali ada beberapa yang tidak sesuaidengan kita, apa yang telah ditelurkan dalam gagasan-gagasannya, yang mungkin tidak orisinil tapi sangat membantu dan bermakna bagi kehidupan pribdai kita. Kali ini saya ambil tulisannya untuk mengisi kekosongan di blog kami ini.

Terus terang, kami tidak pernah minta ijin untuk tiap tulisannya yang kami muat ulang. Di sini kami tidak punya maksud komersiil, jadi kiranya, menurut perasaan kami, ini bukan soal besar.
Kali ini tulisan beliau yang kami "curi" adalah:

TJS: MYT



Mari berbincang soal TJS: Tiga Jurus Sukses. Ini resep cespleng yang saya terima dari seorang kawan yang bermurah hati mau mengajar saya. Katanya, ia sudah membaca ribuan buku mengenai sukses. Dan saya percaya. Ketika saya berkunjung ke kediamannya, ia dengan bangga menunjukkan kepada saya perpustakaan pribadinya yang penuh dengan buku-buku tebal dalam jumlah ribuan. Ada yang nampak sudah lusuh betul dan penuh debu tanda lama tak tersentuh. Ada juga yang masih terbungkus rapi, belum sempat dibuka.

Saya percaya bahwa apa yang diajarkannya kepada saya tidak saja bersumber dari buku-buku itu, tetapi juga dari ratusan seminar dan pelatihan yang pernah ia ikuti. Ia belajar dari guru-guru sukses terbaik di Indonesia, di Asia, di Amerika, dan bahkan dari belahan dunia lainnya. Obsesinya untuk meraih sukses dan menjadi lebih sukses dan terus sukses telah membuatnya menginvestasikan ratusan juta tiap tahun untuk berguru dari orang-orang terbaik. Ia mengatakan kepada saya, bahwa tiga jurus sukses yang akan diajarkannya langsung kepada saya itu, merupakan kesimpulan dan ringkasan dari semua ajaran sukses yang pernah ada di muka bumi. Ia juga mengatakan bahwa untuk sampai pada kesimpulan bahwa hanya perlu tiga jurus untuk sukses, ia telah membayar puluhan ribu dolar selama bertahun-tahun. Luar biasa, bukan?

Kepercayaan saya akan keluarbiasaan ajaran yang bakal ia curahkan kepada saya semakin tebal melihat hidupnya sendiri yang memang addakaddabra bin simsalabim. Dari manusia yang bukan siapa-siapa, ia menjadi orang yang dikenal siapa-siapa. Dari orang biasa-biasa saja, ia menjadi X-O-P, extra ordinary person. Dari orang kampungan, ia kemudian bisa membeli kampung-kampung orang lain. Maka saya memutuskan untuk mendengarkannya dengan takzim. Telinga saya terpasang awas. Mata saya tak mau lengah. Segenap pikiran berkonsentrasi untuk mendapatkan resep yang aduhai ini.
Tiga jurus yang diajarkannya itu disingkat MYT: Mimpi-Yakin-Tekun.

Jurus pertama, mimpi. Belajarlah untuk bermimpi. Ini pelajaran fundamental paling penting. Ingat, hanya manusia yang bisa bermimpi. Kambing tak bermimpi. Anjing tak bermimpi. Kucing tak bermimpi. Singa, harimau, buaya, sapi, dan keledai, juga tak bermimpi. Pokoknya, flora dan fauna tak bisa bermimpi. Itu sebabnya tak ada kambing sukses, yang ada kambing congek. Tak ada kucing sukses, yang ada kucing garong. Tak ada buaya sukses, yang ada buaya darat. Tak ada sapi sukses, yang ada sapi perah. Pendek kata, meskipun binatang juga bisa tidur seperti manusia, tetapi mereka tidak mampu bermimpi.

Daftar impian atau buku impian atau apapun yang merekam mimpi manusia, sangatlah penting. Mau disebut cita-cita, tujuan, sasaran, target, outcome, atau apapun, terserahlah. Intinya sama, kalau mau sukses bermimpilah, bercita-citalah yang besar. Keluarlah dari penjara kenyataan, dan berkelanalah di dunia bidadari. Kalau Anda bisa melakukan itu, maka Anda sudah menguasai 33,33% dari ilmu sukses tiga jurus yang diajarkan kawan saya.

Jurus kedua: yakin. Yakin atas apa? Yakin atas kemungkinan membuat impian itu bisa menjadi nyata. Kawan saya bilang, tak ada kekuatan di jagat raya ini yang mampu menyaingi kekuatan keyakinan alias kepercayaan. Jika impian bertalian dengan mind power, maka keyakinan berkaitan dengan heart power. Dan kedua hal ini merupakan inti dari man power. Penjelasannya yang singkat ini membuat saya terperangah. Ia bicara tentang kekuatan hati, kekuatan yang mampu melahirkan keikhlasan. Wow! Benar-benar mencengangkan.

Sekarang jurus ketiga, jurus terakhir: tekun. Bertekunlah dalam setiap usaha merealisasikan impian yang sudah diyakini itu tadi. Tidak ada yang namanya kegagalan, yang ada hanyalah umpan balik untuk pembelajaran. Pelajari umpan balik, ambil hikmahnya, lalu maju lagi. Coba lagi. Jangan pernah menyerah. Terapkan itu dalam masa-masa paling sulit. Ketekunan adalah body power, kekuatan tubuh. Ia melengkapi mind power, dan heart power. Dengan ketekunan semuanya menjadi three-in-one. Luar biasa! Saya berdecak-decak kagum sampai ileran dibuatnya.

Sebagai bonus sukses tiga jurus, kawan yang hebat ini berjanji akan mengajarkan saya resep cespleng lainnya. Yang ini pun tak kalah dahsyat, katanya. Konsep bes-ebes-ebes, namanya. Di artikel edisi berikut ya?!

Nah, sambil menunggu resep berikutnya, praktikkan dulu resep MYT kali ini.

Mantaplah!

Andrias Harefa; Mindset Therapist, Penulis 35 Buku Best-seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 Tahun. www.andriasharefa.com



Rabu, 03 Februari 2010

Belajar membutuhkan keikhlasan menjadi murid

Selamat Datang, Selamat menikmati beberapa hidangan... namun, dengan sangat menyesal, kami hanya bisa menyajikan beberapa hal yang ringan dan memberi semangat. Di bawah ini ada beberapa tulisan atau artikel menarik yang kami kira akan membantu teman-teman dalam memotivasi diri sebagai pembelajar. Satu dan lainnya tidak berkaitan. Tidak seluruhnya adalah sesuatu yang bermanfaat bagi Anda, tapi pilah saja yang sesuai.
Saya sendiri tidak yakin bahwa makanan bergizi bisa membuat semua orang lebih sehat, tapi bagi mereka yang mau mengonsumsinya dengan cara yang benar, saya kira itu sudah sangat bermanfaat.

http://web.bisnis.com/kolom/2id2767.html Motivasi Tiada Henti: Mengapa kita selalu perlu motivasi.

http://web.bisnis.com/kolom/2id2765.html Lima Prinsip Kepemimpinan

http://web.bisnis.com/kolom/2id2745.html Bijak Bersama Organisasi

Sementara tiga dulu....

Jumat, 20 November 2009

MENJADI PEMIMPIN

Tulisan Andrias Harefa

Menjadi Pemimpin

Kita paham bahwa pemimpin tidak dilahirkan dari ruang-ruang kelas. Pengajaran mengenai berbagai konsep tentang kepemimpinan, hakikatnya, gaya-modelnya, atribut-atribut dan sifat-sifatnya, jenis-jenis karismanya, bakat dan talenta yang diperlukan, tentu berguna. Namun, hal menjadi pemimpin bukanlah soal pengetahuan semata. Orang tidak bisa menjadi pemimpin dengan melakukan riset secara online di internet, berapa tahun pun itu dilakukan. Ia harus keluar kelas, beranjak dari kursinya, meninggalkan perpustakaan, dan berinteraksi dengan manusia lainnya.

Pelatihan kepemimpinan juga akan bermanfaat. Meningkatkan keterampilan berkomunikasi, jelas perlu. Mengasah kemampuan untuk menunjukkan arah (direction), membagi-bagi peran dan tugas, pasti penting. Menumbuhkan kemahiran dalam memotivasi dan membangkitkan kembali semangat yang terkulai, sangatlah vital. Menajamkan kemampuan untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat dan berpikir kreatif out of the box, juga tak bisa disangkal arti pentingnya. Tetapi, hal menjadi pemimpin bukanlah soal-soal pelatihan. Sejuta sertifikat dari lembaga-lembaga pelatihan kepemimpinan yang paling terkemuka di bumi ini, tidak otomatis membuat seseorang menjadi pemimpin.

Jika pengajaran dan pelatihan kepemimpinan merupakan syarat perlu, tetapi belum memadai, maka unsur apalagi yang penting dan harus ada agar orang menjadi pemimpin? Apakah unsur yang justru esensial dan vital dalam proses membentuk seseorang menjadi pemimpin?
Studi dan pengalaman saya yang terbatas menunjuk pada satu hal sederhana: pendidikan. Untuk menjadi pemimpin seseorang perlu mengalami proses pendidikan. Artinya, ia mengalami proses pemanusiawian dirinya sendiri secara berkelanjutan. Ia perlu menemukan contoh-contoh yang dijadikannya panutan; dan ia sendiri bertanggung jawab untuk membentuk dirinya agar mengalami proses transformasi menjadi teladan-contoh-panutan bagi lingkungan konstituennya. Ia harus menjadi manusia transisi, kata Stpehen R. Covey. Menjadi pemimpin, kata Warren Bennis, adalah menjadi diri sendiri yang otentik.

Jadi, hal menjadi pemimpin memerlukan kelengkapan dari proses pendidikan, proses pengajaran, dan proses pelatihan. Di antara ketiga proses tersebut, pendidikan adalah jiwanya, spiritual aspeknya. Dan jiwa atau spiritualitas pemimpin tidak berasal dari kelas-kelas pelatihan atau buku-buku yang berisi pengajaran luar biasa. Jiwa pemimpin berpijak pada realitas hidup lingkungannya; realitas hidup konstituen dengan segala masalah dan potensinya. Dan realitas itulah yang ingin diubahnya; ingin ia bentuk-ulang sehingga menjadi lebih baik, lebih maju, lebih berkebudayaan, lebih berkeadilan, lebih sejahtera, lebih berkesesuaian dengan hakikat, harkat, dan martabat kemanusiaan. Singkatnya, lebih sesuai dengan visi sang pemimpin.

Spirit Perubahan

Dalam konteks mikro, sebuah organisasi yang tidak menumbuhkan spirit perubahan adalah organisasi yang masa depannya terancam. Perusahaan yang semangat inovasinya melempem tidak akan bertahan sebagai perusahaan terkemuka dalam jangka panjang. Sebab spirit perubahan dan semangat inovasi adalah sekadar pertanda hadirnya pemimpin dalam organisasi terkait. Tanpa hal itu, pemimpin tidak hadir, tidak eksis. Yang ada hanyalah pejabat, pemangku jabatan. Yang berperan adalah manajer, pengelola yang memuja efisiensi. Yang eksis adalah bos, pemberi instruksi dengan senjata reward and punishment.
Spirit perubahan, yang merupakan hakikat pendidikan sejati, adalah inti dari ”bisnis” pemimpin. Ia menggerakkan orang untuk melakukan perubahan. Entah itu dalam perubahan yang bersifat evolutif-gradual-perlahan; perubahan dengan kecepatan menengah-reformatif-parsial; atau perubahan yang bersifat radikal-revolusioner-total. Entah perubahan untuk membuat sesuatu menjadi lebih besar (bigger), lebih tinggi (higher), lebih baik (better), lebih kuat (stronger), lebih cepat (faster), lebih mudah (easier, friendlier), dan sebagainya. Entah itu menyangkut kinerja produksi, kinerja penjualan dan pemasaran, kinerja keuangan, atau kinerja perusahaan secara keseluruhan, kepuasan konsumen, pertumbuhan pangsa pasar, profit margin, dan sebagainya.
Pembawa Perubahan

Karena perubahan adalah inti bisnis pemimpin, maka menjadi pemimpin berarti bergaul di lingkungan pendobrak status quo (kemapanan). Para pembawa perubahan yang anti kemapanan ini bisa dikelompokkan menjadi empat.

Pertama, orang-orang muda yang baru keluar dari pelatihan. Mereka telah mempelajari sejumlah hal namun belum pernah mempratikkannya. Keluguan dan kurangnya pengalaman justru menjadi keunggulan mereka. Albert Einstein dalam bidang sains, Fred Smith dengan Federal Express, dan Steve Jobs-Steve Wozniak dengan Apple-nya, pernah mewakili kelompok ini.

Kedua, orangtua yang pindah bidang kegiatannya (shifting field). Karena baru pindah bidang, orang-orang model ini belum terkontaminasi dengan apa yang ”bisa” dan ”tidak bisa” dlakukan dalam bidang yang baru dimasukinya. Mereka akan menerobos saja pakem-pakem lama, dan kemudian mencatatkan hal-hal baru. Alex Mueller, fisikawan yang mulai menggeluti super konduktor di usia lanjut; Edward Deming, ahli statistik yang kemudian berkecimpung di dunia manufaktur di usia lanjut, sehingga melahirkan gerakan Total Quality Management (TQM); dan Bill Weimer, sarjana fisika yang beralih rupa dari seorang ahli teknik menjadi ahli pemasaran di IBM; adalah beberapa contoh legendaris dari kepeloporan orang-orang gerusia di atas 40 tahun yang pindah bidang.

Ketiga, orang-orang lama yang nyentrik dan tidak konvensional. Mereka biasanya dikenal karena tidak disiplin, susah diurus, suka mengajukan pertanyaan kepada manajemen. Paul Garvin, pendiri Motorola, membawa radio dari ruang keluarga menjadi radio mobil; Robert Galvin, mengeluarkan Motorola dari bisnis elektronik konsumen lalu memasuki produksi chip terpadu; kedua ayah-anak itu tidak takut menerobos peraturan-peraturan untuk membawa perusahaannya berkembang.

Keempat, pelaksana lapangan. Mereka tidak mengetahui apakah masalah yang mereka hadapi khusus atau generik; mereka hanya tahu bahwa masalah harus dipecahkan agar tugas mereka selesai. Spread sheet elektronik dan sistem switch telepon ditemukan oleh pelaksana lapangan semacam ini.

Jadi, untuk menjadi pemimpin yang membawa perubahan, bergaullah dengan orang-orang muda yang masih fresh graduate; ajak bicara orangtua yang beralih bidang pengabdian; dengarkan pandangan orang-orang nyentrik yang tidak konvensional dalam perusahaan; dan sering-seringlah turun ke bawah untuk berbicara dengan pelaksana lapangan. Semoga.


Andrias Harefa; Penggagas Visi Indonesia 2045; Trainer Coach Berpengalaman 20 Tahun; Penulis 35 Buku Best-seller. Beralamat di www.andriasharefa.com/ dan aharefa@gmail.com. Tulisan ini sudah dimuat di Bisnis Indonesia Minggu edisi 9 Agustus 2009.

Tulisan-tulisan Andrias Harefa sangat bagus, memberikan inovasi pemikiran, dan karena itu saya pikir cukup tepat membaginya kepada teman-teman... terutama mereka yang bergerak di wilayah pendidikan non-formal, juga kawan-kawan yang memerlukan pemberdayaan diri.